Belajar Wayang #1

Bermula dari penasaran kisahnya Bisma pasca baca-baca blog, lalu saya pun bertanya pada master wayang. Saya interested banget tuh belajar wayang. Kisah Bisma itu kayak apa? Ikuti aja “Belajar Wayang”, saya simpen di edisi-edisi selanjutnya. :p Nah, kebetulan skillslab kemarin itu di lantai 3, jadi lewat depan ruang itu ada banyak tempelan poster yang ada salah satu gambar tokoh wayang. Saya tidak bisa menebak itu tokoh apa, hohoho. Tapi, dengan kebaikan hati master wayang, saya pun dijelaskan. Itu wayang Karna, model wayang Solo dilihat dari kepala dan batiknya. #bengong2keheranan

Mulai dari situ, saya inget kalo dulu ada cerita di Dancow yang ceritanya Karna berkhianat ke Pandawa dan bergabung ke Kurawa, ternyata oh ternyata ada sesuatu yang berbeda. Mau tahu ceritanya? Langsung saja ke TKP…

——-

Dorodokdokdokdok Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelip… Dorodokdokdokdok..

Pada suatu hari terdapat gadis yang cantik jelita bernama Kunthi. Dia ingin sekali mempunyai anak, tapi ya itu, belum menikah. Kemudian dia bertemu Bathara Surya (Dewa Matahari) terus diberi hamil deh. (Ceritanya cuma dilihat doang sama Bathara Surya, terus tiba-tiba hamil) Nah, ketika akan melahirkan, Kunthi memohon agar tidak terjadi persalinan secara normal (well, kan secara dia masih gadis ya…). Keajaiban pun terjadi lagi, anaknya lahir melalui… telinga.  Makanya anak tersebut diberi nama Karna (telinga).

Nah, terus Karna pun diasuh sama perawat kuda Astina, namanya lupa hehehe. Singkat cerita, tumbuhlah Karna. Pandawa juga pada lahir tuh. Terus suatu saat, Karna ingin ikut latihan memanahnya Pandawa, eh nggak boleh ikut sama Werkudara. Kenapa? Karena mereka tahunya Karna itu bukan keturunan ratu. Nah, karena tahu itu, si Duryudana (sulungnya Kurawa) nggak suka tuh Karna dijelekin. Lagipula Pandawa dan Kurawa kan juga selalu bersaing [ada di cerita selanjutnya], jadi Duryudana itu merekrut Karna jadi balanya (temennya) Kurawa.

Dorodokdokdokdok…

——-

Begitu sedikit cerita yang berbeda. Kisah selanjutnya ntar nerangin posisi Karna di keluarga Pandawa. Sedikit bocoran, Karna itu kakaknya Pandawa. Ingin tahu kisah selanjutnya? Ikuti “Belajar Wayang” edisi #2. Hahaha.

rizkyawinaswari:

Ambasador Padmanaba

Mendekati usia ke-70, Padmanaba telah menorehkan ribuah prestasi-prestasi cemerlang melalui maha karya siswa-siswinya. Padmanaba telah melahirkan generasi-generasi emasnya, mencetak sekian banyak siswa dan alumni dengan nama besar berkat kontribusinya untuk masyarakat dan Indonesia.

"Impatience never commanded success."

— Edwin H. Chapin (via kari-shma)

(Source: kari-shma)

 :D

 :D

(Source: megamariezta)

Adillah mulai di dalam pikiran :)

Dalam kangen yang teramat parah untuk menari. It’s been loooonnng time nggak nari. And yes, in my whole life, sedikit orang yang pernah (dan masih ingat) aku pernah menari di depan panggung. I do love dancing. Tapi itu sudah terhenti dulu. Udah lama banget. Terakhir kalinya aku mendengar seorang temen waktu SMA bilang: “Nggak nyangka Sit kamu bisa nari.” Dengan pandangan heran seheran-herannya.

Sekarang kalo disuruh nariin lengkap dari awal sampe akhir mungkin memang harus berusaha keras untuk mengingat gerakan dan menahan posisi selama 4x10menit. Yang jelas masih kuingat adalah rasa bahagia yang timbul setelah menari. Itu sangat menyenangkan. Apalagi kalau pagelaran dan semua penonton bertepuk tangan. Aaaaaa..

Cuma inget, terakhir berhenti nari setelah pakai kerudung. Sebenernya kerudung tidak menghalangi seseorang untuk menari, tapi saya masih belum ‘sampai hati’ menari dan melihatkan lekuk tubuh di hadapan bayak orang even dalam rangka memperkenalkan budaya Indonesia. I still love dancing. Kali ini mungkin hanya sebagai penikmat dan komentator saja. Saya masih suka menilai gerakan seorang penari sudah luwes atau belum, sudah cukup pas dan menhayati atau belum. Sebatas itu. Kadang kalo kangen, saya cuma bermain-main dengan jari-jari tangan saya.

Hal yang sama sering saya dapatkan ketika banyak orang tidak tahu kalau saya bisa renang. Kalo renang sama orang-orang, saya emang biasanya cuma pake gaya katak+punggung. Kalo saya berenang sendiri, saya baru mencoba gaya lain. Saya (lagi-lagi) malu kalo dilihat orang. Hehehe. Soalnya gerakan renang itu bagus! Mirip orang menari :p

Nggak banyak juga yang tahu kalau saya suka melukis. Saya dulu hobi banget. Tapi kalo di sekolah, lukisan saya biasa aja. Yang saya ambil dalam melukis bukan seberapa bagus lukisan atau teknik yang digunakan, tapi apa pesan yang ada dalam lukisan itu dan kepuasan setelah melukis. Itu yang nggak semua orang bisa rasakan.

Nggak banyak orang juga yang tahu saya suka nulis. Cuman pernah sekali ketemu temen waktu di Kompas dan dia bener-bener heran aku bisa nulis. Sebenernya kakakku lebih jago menulis. Gaya menulis kami berbeda 180 derajat tapi. Saya sekarang juga jarang menulis. Cuman kadang-kadang aja kalo bener-bener pengen. Dan ini bukan ‘tulisan’,  ini curcol doang.

Jadi benernya nggak banyak yang tahu saya itu bagaimana. Saya tidak berusaha menyembunyikannya, tapi nggak ada gunanya juga menyebutkan semua ke orang-orang. Cuma saya jengah juga kalau dianggap tidak bisa apa-apa. Apalagi dilihat sebelah mata.

Yang saya ingin bilang adalah setiap orang punya kelebihan masing-masing. Tinggal dia mau show off atau enggak. Orang yang keliatan biasa-biasa aja, bisa sebenernya dia luar biasa, cuman dia nggak mau menunjukkannya. Kadang orang-orang seperti itulah yang tiba-tiba muncul dengan pencapaian yang luar biasa dan unpredictable.

Adillah mulai dalam pikiran. Begitu kata Pramoedya Ananta Toer. Hargai orang lain sebagaimana ingin dihargai. Dan jangan menjudge seseorang dari kata-katanya. Apalagi merasa paling tahu tentang orang itu. :)

"Dunia ini lebarnya cuman sedaun kelor. Ke sana, ketemu temen, ke sini ketemu temen. Dimana-mana ketemu temen. Ternyata teman-teman masa kecilku banyak yang sudah menjadi orang-orang luar biasa. :) Di saat lain, juga melihat teman lain yang sedang terpuruk dan jalan di tempat karena lelah. Ah, that’s life. Kita yang memilih, ingin tetap jalan di tempat atau berjalan selangkah demi selangkah lalu berlari naik menjulang. :) So many thanks my so beautiful and smart friends."

— Warihwati, 2011

"

Keindahan adalah kekuatan, ketulusan hati adalah pemurninya, senyum adalah jalannya, nasehat adalah kekayaannya, persahabatan adalah dunianya, dan cinta adalah alamnya.

Tuhan menghubungkan diri-Nya dengan setiap jiwa, melalui sentuhan yang menggetarkan hati.

Maka jika jiwamu bergetar karena sebuah keindahan, baik itu dari kalimat atau keadaan, sujudkanlah hatimu, karena sesungguhnya engkau sedang berada dalam kehadiran Tuhan yang sedang menyentuh dan menuntun hatimu menuju pengertian yang membebaskanmu dari keraguan dan ketakutanmu.

Engkau terhubung sangat dekat dengan Tuhanmu.

Semua yang kau minta telah didengar dan diangguki-Nya, sekarang tinggal engkau yang memantaskan diri bagi jawaban indah dari-Nya.

"

— Mario Teguh

Allah, aku menunggu jawabanMu…

izinkan aku menunggu hingga pergantian hari…

dalam tunduk tersyahduku dalam malam Idul Fitri… :)

hei :) #6

inbox HPku penuh… aku menghapus sms yang baru masuk terus-menerus. entah kenapa tadi aku membaca lagi sms di inbox hpku dari awal. memang kebanyakan isinya kamu.

ada perbedaan yang benar-benar terlihat dari awal hingga akhir… sungguh di awal, semangatmu begitu besar, pikiranmu begitu positive, perhatianmu begitu besar, kata-kata yang kamu berikan begitu tulus.

dan akhir-akhir, kata-katamu didominasi keputusasaan, amarah, kebencian, negative thinking, dan kata-kata yang bosan kamu ucapkan.

apakah itu karena aku?

aku tidak ingin menghapus semuanya. aku ingin belajar dari kesalahanku yang membuat kamu menjadi seperti sekarang.

sambil terus berbicara dari jarak paling dekat. berbisik dan menyapa dari jarak paling dekat.

aku menghapus air yang jatuh melalui pipiku saat ini dan melengkungkan 2-2-7 :)

setidaknya di akhir sapaanku untukmu dalam jarak paling dekat, kamu akan merasa lebih baik. karena aku yakin, Dia akan menyampaikannya. pasti, dengan cara yang luar biasa indah. :)

"Give laugh to all, but smile for one; give hugs to all, but kiss for one; give hands to all, but lips for one; give love to all, but heart for one. :)"

— dr. Yuda